Friday, August 12, 2005

Metode Mendisiplinkan anak Sholat Lima Waktu
Nara sumber: Ibu Aluyah, MEd (USyd)


Pertanyaan:

Beberapa tahun yang lalu saya sempat mengajar di tpa namun sekarang sudah tidak lagi. Tapi saya tetap mengajar ngaji remaja bimbingan saya secara intensive (mingguan). Alhamdulillah mereka semangat sekali datang pengajian. Tekun mendengarkan materi dan juga semangat belajar membaca Al Qur'an dan Iqro. Hanya saja ketika saya tanyakan apakah mereka sudah menjalankan sholat 5 waktu secara rutin, tidak satupun mengatakan ia. Disatu sisi saya sangat sedih karena mereka tidak sholat, disisi lain saya senang dengan sifat jujurnya.
Materi tentang sholat, bagaimana hukumnya, bagaimana siksaan di yaumil akhir kepada orang-orang yang tidak patuh kepada perintah Alloh sudah sering diberikan bahkan diulang-ulangi, sayangnya materi itu hanya sampai pada akal saja, namun belum dipraktikkan dan masuk ke dalam hati. Nah kira-kira adakah metode efektif seperti apa utk menyadarkan anak-anak remaja tsb agar disiplin menjalankan sholat 5 waktu? Remaja binaan saya tersebut berumur antara 14-16 tahun. Saya pernah dengar bahwa mengajarkan dengan memberi contoh jauh lebih efektif karena si anak akan cepat meniru, hanya saja saya tidak tahu pasti apakah orang tua mereka sudah maksimal mengajarkan atau mengajak anak-anaknya untuk sholat berjamaah? saya pernah baca, bahwa sholat berjamaah di keluarga banyak sekali manfaatnya, melatih anak-anak disiplin sholat, sehingga bila itu tidak dilakukan seperti ada yang missed dan kerinduan, selain itu juga menambah kedekatan hubungan antar keluarga (contohnya hubungan orang tua dan anak). Faktor lain yang saya rasa agak membuat mereka lalai sholat, adalah lingkungan sekitar, contohnya teman-teman sekolah sebagaimana saya ketahui mereka sekolah di public school bukan di sekolah Islam. Nah kira-kira bagaimana meminimise kuatnya pengaruh lingkungan ini terhadap anak tsb, dan bagaimana caranya agar anak-anak tersebut dapat menyadari kewajibannya menegakkan sholat. Saya juga pernah baca bahwa dalam belajar dibutuhkan proses, nah kira-kira berapa lama normalnya dibutuhkan waktu agar anak tsb mau sholat?

Demikian kurang lebih pertanyaan dari saya. Jazakillah khair mbak uya. ditunggu jawabannya.

-L-



Jawaban:

Menanamkan kebiasaan sholat pada anak memang bukan masalah yang mudah, terlebih seperti kasus binaan Mbak yang sudah remaja, dan berada di (mungkin) lingkungan yang kurang mendukung. Ada beberapa masukan yang mungkin bisa mbak pertimbangkan untuk masalah ini:

Bahwa materi urgensinya sholat, dsb yang mbak sebutkan, apakah itu ‘asumsi’ bahwa mereka sudah menerima materi tsb, ataukah memang di pertemuan dengan mbak sudah dibahas? Kalau belum, mungkin tidak ada salahnya materi tersebut disampaikan oleh mbak. Siapa tau kalau mbak yang menyampaikan bisa seperti yang mbak bilang: “nyangkut dihati, ndak cuma di otak ^_^”. Tekankan ttg urgensi, manfaat, dan bahwa ibadah sholat adalah ibadah pertama yang akan di hisab nantinya. Bersama jawaban ini uya’ attach contoh materi untuk itu yang mungkin bisa dipakai (kebetulan ini yang ada dikomputer yang in English ^_^---mungkin malah mbak punya yang lebih baik)


Jika pada kenyataannya mereka sudah faham ttg urgensi sholat, ada baiknya ditanya masalah mengapa mereka sampai tidak bisa menjalankannya secara penuh. Apakah masalahnya bersifat ‘teknis’, seperti tidak adanya ruangan yang disediakan disekolah karena mereka sekolah di public schools misalnya, atau ada masalah lain? Mungkin dengan mengetahui hal ini bisa ditemukan solusinya. Jika permasalahannya ttg tidak adanya ruangan sholat disekolah misalnya, mereka bisa diberikan motivasi untuk meminta ruangan disekolah mereka, membicarakan ttg hal tsb dengan guru mereka secara baik, Insya Allah, kalau masalahnya ini, kasus yang sama di beberapa sekolah Alhamdullillah bisa diselesaikan. Pihak sekolah dengan senang hati akan menyediakan ruangan tsb. Bahkan disebuah Public High School dekat sini, bisa meng-organise sholat Jum’at, karena toh itu tidak mengganggu jadwal belajar.


Hal lainnya, mungkin perlu juga disampaikan kepada mereka ttg tanggung jawab ibadah mereka dalam agama Islam. Kita ketahui bahwa bahwa dalam Islam, dalam setiap perkembangan fisik manusia, ada tanggung jawab ibadah yang mengiringi perkembangan tersebut. Misalnya, ketika seseorang sudah baligh, dari segi fisik mereka berubah, pun, tanggung jawabnya dari segi ibadah juga berubah. Pahala dan dosa sudah mulai berlaku, artinya, semua ibadah yang wajib sudah harus dilaksanakan, jika ditinggalkan akan mendapat dosa (sesuai dengan pengertian ‘wajib’) Sehingga untuk masalah sholatpun demikian. Namun, Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah sudah memberikan tuntunan bagi kita untuk menjalankan permasalahan pendisiplinan sholat ini sejak mereka belum menghadapi usia baligh, sehingga kelak ketika mereka mencapai tahapan bahwa pelaksanaan ibadah tsb menjadi wajib, sudah tidak ‘kaget’ lagi. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Daud dari Amru bin Ash Radhiyallahu’anhuma, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Suruhlah anakmu untuk mengerjakan sholat ketika berusia 7 tahun, dan pukullah ia ketika menginjak usia 10 tahun bila tidak mengerjakan sholat…” Dari hadits ini kita melihat bahwa usia 7 tahun, anak sudah mulai dibiasakan praktek sholat. Sebelum itu anak diperkenalkan, seprti dengan membiasakan anak melihat orang yang sedang praktek sholat (yang pling baik adalah orang tua), membuat anak familiar dengan waktu-waktu sholat, dsb.Ini memang menuntut pembiasaan. Pembiasaan ini memang penting, seperti yang dinasehatkan oleh salah seorang sahabat senior yang dekat dengan Rasulullah, ‘Abdullah bin Mas’ud kepada para bapak tentang bagaimana memperlakukan anak-anak mereka: “Biasakanlah mereka dengan perbuatan baik, karena sesungguhnya kebaikan itu dengan membiasakannya “. (At-Tarbiyah An-Nabawiyah lith-Thifli hal.354)
Dalam proses pembiasaan ini anak juga dimungkinkan untuk menghadapi masalah-masalah pendisiplinan, misalnya, ketika pergi tamasya, bagaimana sholatnya, dsb. Jika anak sudah dibiasakan, Insya Allah tidak akan terlalu sulit ‘melepas’ mereka mendisiplinkan diri.

Untuk point ini, mbak materi Human development kaitannya dengan tanggung jawab ibadah mungkin perlu juga ya…^_^



Yang tidak kalah pentinya juga, seringkali ketika kita memecahkan masalah remaja, apapun bentuknya, solusinya hanya focus ke individu remaja tersebut, padahal, seperti yang mbak juga sampaikan, dalam kasus pendisiplinan sholat ini misalnya, peran orang tua juga penting. Yang lainnya, salah satu karakter kelompok usia binaan mbak, adalah kuatnya pengaruh kelompok pada mereka, sehingga teman-temannya juga akan sangat berpengaruh. Memahami hal ini, maka solusinya juga harus diusahakan menyangkut pihak-pihak yang berpengaruh tersebut. Terhadap orangtua misalnya, mbak bisa mengkomunikasikan kepada mereka, bahwa mbak sedang ingin membantu memprogram pendisiplinan sholat buat si remaja, mbak sampaikan bahwa mbak butuh bantuan sang orang tua untuk memotivasi, memberikan kondisi yang kondusif, dan memonitor pendisiplinan tersebut. Sampaikan pula bahwa si remaja sudah punya keinginan baik untuk hal ini (ini artinya mbak harus mengkomunikasikan hal ini terlebih dahulu kepada si remaja). Ini juga untuk membantu terjalinnya komunikasi kita sebagai Pembina, dengan orang tua binaan kita.Selanjutnya, teman-temannya juga didekati agar mereka juga saling mendukung dalam kebaikan. Kondisi ketika mengaji kalau bisa juga diusakan bisa mendukung program ini, salah satunya dengan megusahakan adanya program sholat berjamaah ketika mengaji.


Berapa lama usaha ini bisa membuahkan hasil, tentu banyak ‘tergantung’ nya mbak…Jika program ini dikonsistenkan (artinya dalam kajian-kajian mbak juga focus ke masalah ini dengan segala alternatif pemecahannya), kurang dari sebulan mungkin bisa terlihat hasilnya. Tentu saja disamping itu, yang utama juga , kita memohon kepada Allah agar memudahkan serta mengistiqomahkan mbak dan binaan mbak untuk usaha perbaikan ini. Wallahua’lam bishawaab.

-Uya-

0 Comments:

Post a Comment

<< Home